Rabu, 21 Maret 2012

sejarah jurnalistik


Sejarah Jurnalistik ...

                Secara gamblang,orang seringkali menyamakan jurnalistik dengan pers,bahkan ada yang menyamakan jurnalistik sebagai surat kabar.Ini disebabkan oleh media massa yang pertama kali diciptakan manusia adalah surat kabar.Tak heran,jika orang mencampuradukan antara jurnalistik dengan media cetak.



                  Hmmm... jadi kira-kira apa yaa

teman-teman..
       







Jangan bingung.... mari kita  ulas sedikit masa lalu... let’s we do..




                         
                                  kilas sorot tragedi.... 


 A.  Sejarah jurnalistik versi Julius Cesar


                          
                  
          Konon ceritanya.... produk jurnalistik pertama adalah ACTA DIURNA yang artinya ‘catatan harian’,yang digunakan oleh Julius Caesar pada zaman Romawi saat ia berkuasa   (60 SM). Acta Diurna merupakan kegiatan jurnalistik yang berkisar pada hal-hal yang sifatnya informatif aja loh teman-teman...terutama untuk kepentingan kerajaan Romawi.Mudahnya,Acta Diurna merupakan ‘corong’ bagi raja Romawi dalam menyampaikan informasi-informasi kerajaan berupa berita-berita dan pengumuman-pengumuman.
            Pemerintahan Julius Caesar mengumumkan hasil persidangan senat,berita tentang kejadian sehari-hari,peraturan-peraturan penting,serta apa yang perlu disampaikan dan diketahui oleh rakyatnya,dengan jalan menuliskannya pada papan pengumuman (Acta Diurna).Lalu,papan tersebut ditempelkan atau dipasang di pusat kota yang pada masanya disebut Forum Romanum (Stadion Romawi) supaya mudah diketahui oleh umum.Setiap warganya diperbolehkan membaca  isi Acta Diurna , bahkan boleh juga mengutipnya untuk disebarluaskan dan dikabarkan lagi ketempat yang lain.

Jauh lebih lama lagi...
Mari kita mundur lagi ke masa yang lebih lampau...

 B.  Sejarah Jurnalistik versi Nabi Nuh



                Masih inget gak niih teman-teman...soal gambar di atas tentang kejadian apa...???? Hayooo siapa yang inget....

            Jadi nih teman-teman,ada yang berpendapat kalau cikal bakal jurnalistik itu bukan “Acta Diurna”,melainkan sejarah Nabi Nuh.Dikisahkan bahwa sebelum Allah SWT  menurunkan banjir yang sangat dahsyat kepada kaum kafir,malaikat diutus oleh Allah SWT untuk menemui Nabi Nuh dan memberitahukan cara membuat kapal yang kokoh.Kapal itu nantinya akan dipergunakan Nabi Nuh untuk menyelamatkan diri bersama sanak keluarganya,seluruh pengikutnya yang shaleh dan segala macam hewan.
            Singkat cerita,Nabi Nuh telah selesai membuat kapal tersebut.Nabi Nuh memerintahkan umatnya yang beriman dan hewan-hewan sesegera mungkin untuk masuk ke dalam kapal tersebut.Tak lama kemudian hujan turun lebat turun hingga berhari-hari tanpa henti,disertai dengan angin dan badai yang begitu dahsyat.Segala yang ada di daratan hancur karnanya,kecuali kapal Nabi Nuh.Sangat cepat daratan berubah menjadi lautan yang luas dan bergelombang.
            Hari demi hari terus berganti,meski sudah berminggu-minggu dilalui di atas kapal,banjir tak juga surut.Nabi Nuh dan seluruh awak kapalnya mulai diserang rasa khawatir dan gelisah,sebab persediaan makanan mereka mulai menipis.
            Untuk meredam kegelisahan para pengikutnya,Nabi Nuh pun mengutus seekor burung Dara keluar kapal untuk meneliti keadaan air dan kemungkinan adanya makanan.Setelah beberapa lama terbang untuk mengamati,burung dara itu hanya melihat daun dan ranting pohon zaitun yang tampak muncul dipermukaan air.Ranting itu kemudian dipatuk oleh burung dara tersebut dan dibawa ke Nabi Nuh.Berdasarkan penemuan itu,Nabi Nuh menyimpulkan bahwa sebenarnya banjir telah surut hanya saja permukaan daratan masih tertutup air.Informasi itu pun disampaikan Nabi Nuh kepada para pengikutnya.
            Giitu loh teman-teman cerita singkatnya tentang sejarah Jurnalistik.Kenapa kedua cerita itu bisa dianggap sebagai kegiatan jurnalistik.... karena keduanya memiliki tahapan yang ada pada kegiatan jurnalistik,seperti proses mencari,mengumpulkan,mengolah dan kemudian menyiarkannya sebagai informasi...


Sampai sini dulu ya teman-teman ....
Samapi jumpa di cerita selanjutnya....dadaaaa....




Lebih dulu yang MANA ???




Ada yang mau bantu teman kita gak...Sule Prikitiw...Biar tugasnya kelar tuhhh,,,, kasian,biar gak jadi galauwers indonesia khususnya di Ibu Kota Jakarta ... hehehehhe... yuk coba kita cari tahu, Mana yang lebih dulu ya,antara  Ilmu komunikasi sama jurnalistik, Check it out...

        Sebelum ilmu komunikasi massa atau publistik diperkenalkan,akademisi menyebut jurnalistik sebagai ilmu suatu studi dalam pernyataan umum melalui surat kabar dengan sebutan 'pengetahuan dibidang persuratkabaran'. Dalam bahasa Jerman dinamakan Zeitungskunde,yang termasuk kali pertama diajarkan diperguruan tinggi,antara lain di Universitas Bazel,Swiss (1884). Kunde berarti 'suatu pengetahuan yang ditujukan untuk tujuan praktik' , sedangkan die zeitungs berarti 'surat kabar'.
        Zeitungskunde diperkenalkan oleh seorang pakar ekonomi bernama Karl Bucher (1847-1930). Setelah sistematika,metode riset,dan peristilahannya disempurnakan,objek studinya dipertajam dan mulai diajarkan secara luas dibanyak universitas sehingga namanya di ubah menjadi Zeitungwissenschaft. Dengan kata lain,pengetahuan dibidang persuratkabaran sudah diakui sebagai suatu ilmu dengan sebutan Ilmu Persuratkabaran,yang berasal dari kata die zeitung (surat kabar) dan wessenschaft (ilmu).
        Setelah Karl Bucher,orang yang dinilai berjasa dalam memajukan ilmu persuratkabaran adalah sosiolog berkebangsaan Jerman,Max Weber (1864-1920). Hasil penyelidikan Weber mengenai aspek sosiologis dari pemberitaan surat kabar dinilai cukup kuat mendukung persuratkabaran sebagai ilmu.Dua analisis Weber yang penting,yakni soal pengaruh modal dalam keredaksian dan soal sifat kelembagaan surat kabar.
        Sejalan dengan perkembangan ilmu persuratkabaran (Zeitungswissenschaft) yang juga penemuan media komunikasi lainnya seperti radio,film dan televisi,dan semakin kompleksnya objek studi,para ahli akhirnya mengubah namanya menjadi Publizistik (1930).
        Berkaitan dengan itu, Prof.Harsojo mengutip pendapat Robert Bierstedt dalam bukunya The Social Order,menganggap jurnalistik sebagai objek studi ilmiah. Bierstedt menyusun sejumlah ilmu murni yang erat hubungannya dengan ilmu-ilmu terapan sebagai yang tertera di bawah ini :

  • Ilmu-ilmu Murni  => Fisika,Astronomi,Matematika,Kimia,Fisiologi,Ilmu Politik,Jurisprudence,Zoologi,Botani,Geologi,Sejarah,Ekonomi dan Sosiologi.
  • Ilmu-ilmu Terapan  => Bangun Karya,Navigasi,Akutansi,Farmasi,Ilmu Obat-obatan,Politik,Hukum,Peternakan,Pertanian,Bangun-karya Minyak,Jurnalistik,Tata niaga,Administrasi,Diplomasi dan Komunikasi/Publisistik.
        Berdasarkan urutan tersebut,Bierstedt menempatkan jurnalistik dan publisistik dalam urutan ilmu-ilmu terapan (applied science).Keduanya pun masuk dalam pengelompokan ilmu sosial (social science).Ketika Bierstedt menulis bukunya tersebut (tahun 1457), Journalism  di Amerika Serikat bukan lagi sekedar pengetahuan (knowledge),melainkan sudah berkembang menjadi ilmu (science). Ini berkat jasa Joseph Pulitzer,tokoh pers kenamaan di Amerika Serikat,yang pada tahun 1903 mendambakan didirikannya 'School Of Journalism' sebagai lembaga pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan wartawan pada masa itu.
        Gagasan Pulitzer ini mendapatkan tanggapan positif dari Rektor Harvard University,Charles Eliot, dan Rektor Columbia University,Nicholas Murray Butler.Journalism dibentuk tak hanya mempelajari dan meneliti hal-hal yang bersangkutan dengan persuratkabaran semata,tetapi juga media massalainnya yaitu radio dan televisi.Kedua media elektronik tersebut selain menyiarkan produk-produk siaran lain,juga menyiarkan pemberitaan,sehingga journalism semakin berkembang menjadi mass communication.(Effendy,1999).
       Dalam perkembangan selanjutnya,mass communication dianggap tidak tepat lagi karena bukan merupakan proses komunikasi yang sifatnya menyeluruh.Hal ini didukung hasil penelitian yang dilakukan oleh ahli komunikasi seperti Paul Lazarsfeld,Bernald Berelson,Hazel Gaudet,Elihu Katz,Robert Merton,Frank Stanton,Wilbur Schramm,Everett M.Rogers,dll,menunjukan bahwa gejala sosial yang diakibatkan oleh media massa tidak hanya berlangsung satu tahap (one step flow of communication),tetapi dua tahap (two step flow of communication).Sementara itu,pengambilan keputusan banyak dilakukan atas dasar hasil komunikasi antarpersonal(interpersonal communication) dan komunikasi kelompok(group communication)sebagai kelanjutan dari komunikasi massa (mass communication).Oleh sebab itu,di Amerika Serikat muncul communication science,atau kadang-kadang disebut juga communicology,yaitu ilmu yang mempelajari gejala-gejala sosial sebagai akibat dari proses komunikasi massa,komunikasi kelompok,dan komunikasi antarpersonal.Bahkan,studi atas bentuk komunikasi diarahkan pada dua bidang studi,yaitu studi komunikasi sosial dan komunikasi massa.Komunikasi sosial memperdalam kajian pada media konvensional atau tatap muka (face to face communication),sedangkan komunikasi massa memperdalam kajian dibidang media massa.keduanya bertujuan untuk mempelajari,mengkaji,dan meneliti segala kompleksitas efeknya,berikut ganggua-gangguan dalam berlangsungnya proses komunikasi.
        Komunikasi sosial selalu menggunakan media tradisional seperti isyarat,perlambangan,gerak tubuh,tatap muka,pertunjukkan (wayang,ludruk,dsb),kentongan,angkriman,dan dengan khalayaknya yang selalu terbatas.Komunikasi sosial bersifat langsung (direct communication).Dengan demikian,khalayaknya dapat langsung memberikan respon s terhadap pesan yang disampaikan komunikator.Komunikasi dua arah dapat dilakukan saat itu juga.
        Komunikasi massa bersifat tidak langsung (indirect communication) serta dibatasi oleh ruang,(massa yang luas,anonim dan heterogen),waktu,jarak dan tempat.Sebagai bagian dari kegiatan komunikasi massa yang menyangkkut bidang studi yang sangat luas dan mendalam,jurnalistik juga sesungguhnya menyangkut kajian mengenai proses komunikasi massa,analisi pesan,metodologi,riset media,audience,penyampaian pesan,manajemen,pengelolaan usaha,industri,penyebarluasan pesan,kajian efek,dsb.
        Seorang ahli komunikasi,Joseph A. Davito juga berpendapat tentang komunikasi massa yang ia tulis dalam bukunya Communicology: An Introduction to The Study of Communication (http://mbegedut.blogspot.com/2011/06/pengertian-komunikasi-massa-menurut.html). Sedangkan ruang lingkup komunikasi massa juga dijelaskan Werner I. Severindan James W. Tankard,Jr dalam bukunya Communication Theories,Origins,Methods,Uses (http://www.scribd.com/doc/86194676/Komunikasi-Kontemporer) .

Nah teman-teman...
Berdasarkan paparan diatas jelas bahwa jurnalistik sebagai cikal bakal ilmu komunikasi tidak terlepas dari kajian seluruh aspek media massa.Tidak hanya terbatas pada kajian media cetak tetapi juga media elektronik dan bahkan kini mencakup juga media online.Sebab,seluruh jenis media massa tersebut melakukan kegiatan jurnalistik untuk melayanikebutuhan dan keinginan khalayak terhadap informasi.



Infonya segini dulu ya teman-teman...
Makasiiihh.......